ID

Massa jenis bijih bauksit dan berat 1 m³

Aluminium merupakan salah satu logam paling melimpah di bumi, tetapi tidak dijumpai sebagai logam murni karena sangat reaktif. Senyawa aluminium membentuk bagian besar kerak bumi dan unsur Al menempati urutan ketiga dalam kelimpahan unsur kerak setelah oksigen dan silikon.

Bauksit adalah bijih utama untuk produksi aluminium, termasuk di Indonesia. Mengubah bijih menjadi logam memerlukan pemurnian menjadi alumina dan elektrolisis yang sangat intensif energi.

Komposisi dan berat bauksit

Bauksit merupakan batuan kompleks yang mengandung mineral aluminium hidroksida, oksida dan hidroksida besi, senyawa titanium, silika, serta unsur lain. Material dapat pula mengandung karbonat kalsium dan magnesium, sedikit senyawa natrium dan kalium, vanadium, kromium, serta butiran pirit.

  • Komposisi berubah menurut mineral aluminium dan pengotor. Komponen yang dihitung sebagai alumina ialah Al₂O₃, bahan antara untuk aluminium. Fe₂O₃ merupakan komponen penting lain. Sumber menyatakan bijih industri lazim memerlukan lebih dari 30% alumina agar pengolahannya ekonomis, tetapi batas aktual mengikuti reaktif silika, mineralogi, biaya, dan proses.
  • Bauksit dapat berupa material menyerupai tanah liat atau batu, dengan struktur earthy, padat, berpori, pisolitik, dan lain-lain. Warnanya putih hingga merah tua atau cokelat bata, hijau keabu-abuan, hampir hitam, kuning, atau bercak beraneka warna.
  • Massa jenis dapat sekitar 1,2 g/cm³ pada bahan berpori rendah besi hingga 2,5-3,3 g/cm³ pada bauksit padat, berbatu, dan kaya besi.
  • Kekerasannya sekitar 2-7 Mohs.
  • Bauksit bertekstur lempung tidak selalu membentuk massa plastis ketika dicampur air, berbeda dari lempung biasa.

Tabel massa jenis bijih bauksit

Material Kekerasan Mohs Massa jenis (g/cm³) Berat 1 m³ (kg) Berat padat (t/m³)
Bauksit 2-7 1,2-3,3 1.200-3.300 1,2-3,3

Cadangan bauksit terbesar berada di Guinea. Sumber USGS 2026 yang digunakan artikel mencantumkan sekitar 7,4 miliar ton di Guinea dari cadangan dunia sekitar 29 miliar ton. Cadangan besar juga terdapat di Australia, Vietnam, Indonesia, Brasil, Jamaika, dan negara lain. Endapan dekat permukaan ditambang terbuka, sedangkan endapan lebih dalam dapat memerlukan tambang bawah tanah.

Alumina adalah bubuk Al₂O₃ yang umumnya dihasilkan dari bauksit melalui proses Bayer. Untuk tahap peleburan aluminium, alumina dilarutkan dalam elektrolit berbasis kriolit. Kriolit alami langka sehingga industri memakai kriolit sintetis yang dapat dibuat dari senyawa fluorida, aluminium hidroksida, dan natrium hidroksida melalui rangkaian proses kimia.

Produksi aluminium terdiri atas tiga tahap utama:

  • penambangan bauksit;
  • pemurnian bijih menjadi alumina;
  • elektrolisis alumina menjadi aluminium metalik.

Untuk menghasilkan satu ton aluminium diperlukan kira-kira 4-5 ton bauksit dan sekitar 2 ton alumina. Angka aktual dipengaruhi kadar, recovery, kadar air, serta efisiensi pabrik.

Pertanyaan yang sering diajukan

Berapa berat 1 m³ bauksit?

Artikel ini mencantumkan kisaran 1.200-3.300 kg/m³. Nilai aktual bergantung pada komposisi, porositas, kadar air, dan jumlah mineral besi.

Mengapa massa jenis bauksit sangat bervariasi?

Bauksit dapat menyerupai lempung, berpori, padat, berbatu, atau kaya besi. Mineralogi dan struktur yang berbeda menghasilkan rentang densitas lebar.

Berapa banyak bauksit untuk menghasilkan 1 ton aluminium?

Perkiraan umumnya 4-5 ton bauksit untuk 1 ton aluminium, melalui sekitar 2 ton alumina. Nilai sebenarnya mengikuti kadar bijih, recovery, dan proses.