Berat isi gambut per m³ menurut jenis dan kadar air
Gambut adalah bahan organik asal tumbuhan yang telah dimanfaatkan selama berabad-abad. Kegunaannya mencakup bahan bakar, komponen media tanam, pembenah tanah, alas ternak, serta bahan isolasi atau urugan pada solusi bangunan tertentu. Material ini terbentuk melalui akumulasi dan penguraian tidak sempurna vegetasi rawa.
Walaupun jenis dan komposisi gambut belum dipahami pada zaman kuno, Plinius pernah menggambarkannya sebagai “tanah yang dapat terbakar”. Pada abad ke-18, seorang peneliti Jerman yang dalam sumber disebut Degner menggunakan mikroskop untuk mempelajari struktur gambut dan membantah sejumlah anggapan keliru tentang asalnya.
Pembentukan gambut
Gambut terutama terbentuk di lahan rawa, tetapi juga dijumpai di dataran banjir dan lembah sungai. Dalam kondisi jenuh air dan miskin oksigen, sisa tanaman menumpuk dan hanya terurai sebagian. Mikroorganisme, invertebrata, dan pelindian ikut mengubah material.
Pada lapisan pembentuk gambut bagian atas, yang dalam sumber disebut hingga sekitar 0,9 m, proses dekomposisi berlangsung paling aktif. Sekitar 30% biomassa terurai dapat tersisa sebagai gambut, sedangkan bagian lain termineralisasi atau terbawa sebagai senyawa terlarut. Endapan kemudian tertimbun lebih dalam dalam kondisi anaerob dan dapat tersimpan selama berabad-abad.
Klasifikasi gambut
Gambut dapat dikelompokkan menurut vegetasi asal—pohon, rumput, atau lumut—dan status trofik atau pasokan unsur hara. Istilah klasifikasi sumber beriklim sedang berikut perlu dibedakan dari klasifikasi kematangan gambut Indonesia seperti fibrik, hemik, dan saprik:
- Gambut ombrogen atau high-moor. Cenderung asam, terdekomposisi rendah, menahan banyak air, dan berkadar abu rendah.
- Lapisan terang atau transisi. Berasal dari bagian atas endapan dengan dekomposisi sekitar 15%. Berat isi yang disebut sumber sekitar 150-250 kg/m³. Satu kilogram material dalam kondisi tertentu dapat menyerap hingga 10 liter air.
- Gambut topogen atau low-moor. Endapan lebih tua, pada sumber disebut hingga 30.000 tahun, berstruktur halus dan lembap, terdekomposisi lebih dari 15%, serta kaya humus. Berat isi referensinya sekitar 350 kg/m³. Reaksinya sedikit asam dan dapat mengandung lebih banyak nitrogen, fosfor, serta kalium.
- Gambut berserat. Mengandung sisa tanaman dengan struktur serat jelas. Produk ini biasanya dicacah menjadi bongkah kecil tanpa proses penyaringan dan pencetakan yang sama seperti grade lain.
Berapa berat gambut?
Tingkat dekomposisi dan air yang tertahan menentukan densitas. Hal yang sama berlaku pada produk komersial; penyimpanan dan pemadatan dapat mengubah berat isi. Tabel berikut berisi nilai teoritis rata-rata menurut kadar air.
Densitas dan berat isi gambut dalam 1 m³
| Jenis | Kondisi fisik | Densitas semu (g/cm³) | Berat 1 m³ (kg/m³) | Berat isi (t/m³) |
|---|---|---|---|---|
| Gambut basah | Jenuh air | 1-1,2 | 1.000-1.200 | 1-1,2 |
| Gambut kering | Padat/kering | 0,2-0,4 | 200-400 | 0,2-0,4 |
| Gambut lembap | Material padat lembap | 0,6-0,8 | 600-800 | 0,6-0,8 |
Pada kadar air yang sama hingga sekitar 85%, sumber menyebut gambut high-moor dapat lebih berat daripada low-moor; di atas 85% urutannya dapat berbalik. Karena pernyataan ini sangat bergantung pada cara menyatakan kadar air dan struktur sampel, gunakan hasil uji lokasi untuk perhitungan teknik.
Pertanyaan yang sering diajukan
Berapa berat 1 m³ gambut?
Beratnya bergantung pada jenis, kadar air, tingkat dekomposisi, dan pemadatan. Gambut kering jauh lebih ringan daripada gambut jenuh air.
Mengapa kadar air sangat memengaruhi berat gambut?
Struktur gambut menahan air dalam jumlah besar. Ketika kadar air naik, massa pada volume yang sama meningkat secara tajam.
Apakah satu angka rata-rata dapat dipakai untuk semua gambut?
Hanya untuk estimasi awal. Pengadaan, pengangkutan, budidaya, dan perhitungan geoteknik harus memperhitungkan tipe gambut, kadar air, dekomposisi, dan kondisi lapangan.